Menalar Tuhan - Franz Magnis Suseno

Perjalanan sejarah keberketuhanan manusia pada saat yang bersamaan melangkah menuju pada satu titik, yaitu pembebasan masalah ketuhanan dari mitologi. Sejak pertama kelahirannya di Yunani, filsafat melangkah dengan upaya pembebasan manusia dari mitologi dengan menentang keyakinan tradisional para leluhurnya, sementara di belahan dunia Timur filsafat India mulai mempertanyakan tentang dasar segala sesuatu, Budha Gautama menghapuskan kasta-kasta sosial di India dan di dunia Islam para Nabi mengawali penghancuran berhala.
Berawal dari pembebasan ketuhanan dari mitologi, perbincangan masalah ketuhanan mengarah ke persoalan metafisika, manusia mulai mengembangkan pemikiran kritisnya dengan memasukkan masalah ketuhanan ke dalam masalah metafisika khusus atas dasar suatu telaah ontologis tertentu, Tuhan selanjutnya menjadi obyek kajian keilmuan.
Filsafat ketuhanan kemudian menjadi bagian penting dalam diskursus filsafat, paling tidak manusia punya dua kegelisahan pertama, mereka tidak mau lagi meyakini kebertuhananya hanya atas dasar warisan keyakinan atau tradisi leluhurnya kedua, manusia harus bisa mempertanggungjawabkan kepercayaan kepada Tuhannya secara rasional.
Menalar Tuhan atau menggapai pengetahuan tentang Tuhan lewat nalar adalah hasrat tertinggi manusia (terutama para filosof dan teolog) dan mereka memiliki satu obsesi yaitu nalar diharuskan dapat mengikuti keimanan dan keyakinan hati, apa yang diyakini harus didasarkan pada tidak adanya pertentangan dengan nalar, sehingga keimanan manusia dapat melibatkan keseluruhan dan menjadikan akal budi juga beriman.
Persoalan inilah yang mendasari Franz Magnez Suseno untuk menulis buku Menalar Tuhan. Secara tegas Romo Franz menjelaskan bahwa buku ini dipersembahkan untuk mereka yang percaya kepada Tuhan dan yang ingin menjawab pertanyaan apakah masih masuk akal percaya kepada Tuhan? Serta bagi mereka yang tidak lagi percaya pada Tuhan tetapi tetap dalam garis kejujuran intelektual dan masih ingin mendalami pertanyaan tentang dasar-dasar rasionalitas kepercayaan akan Tuhan (hal. 13).
Melalui telaah historis filosofis, Franz Magnis ingin menunjukkan dasar-dasar rasionalitas akan bukti adanya Tuhan yaitu diawali dengan pemaparan mengenai untuk apa dan bagaimana Tuhan bisa di nalar, membicarakan tentang tiga jalan menuju Tuhan melalui argumen ontologis, kosmologis dan teleologis serta jalan lain menuju Tuhan dengan bertolak pada manusia seperti hati nurani, kebebasan, pencarian makna terakhir dam moralitas manusia sendiri. Kemudian pembahas diteruskan pada pembicaraan secara kritis tentang tantangan terbesar bagi penalaran terhadap Tuhan yaitu pemikiran para filosof ateis dan paham filsafat agnostisisme.
Bagi saya pemaparan Franz Magnis mengenai argumen jalan menuju Tuhan melalui tiga jalan ontologis, kosmologis dan teleologis bukanlah hal baru melainkan argumen klasik. Namun, yang menarik dari analisis Frans magniz tentang dasar-dasar rasionalitas Tuhan adalah keimanan manusia kepada Tuhan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional, melalui dua jalan yaitu secara teologis dan filosofis.
Secara teologis pembuktian tuhan dibuktikan lewat wahyu karena wahyu sebagai sumber kebenaran suatu agama, sementara secara filosofis menunjukkan kebenaran keimanan pada Tuhan lewat penalaran, yaitu, nalar digunakan untuk memeriksa suatu keyakinan melalui beberapa sudut seperti dari sudut konsistensi logis, sudut pengalaman batin, pengetahuan tentang alam dan masyarakat dan seterusnya dengan membatasi diri pada satu pertanyaan mendasar bahwa bagaimana kepercayaan bahwa ada Tuhan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Bagi saya sendiri kehadiran buku Menalar Tuhan ini menjadi sangat menarik sekaligus bisa menjadi alat untuk menjawab tantangan kaum agamawan untuk membuktikan secara rasional akan keyakinan kebertuhanannya. Hal ini mengingat perkembangan sejarah pemikiran manusia dan filsafat yang tidak menjadikan Tuhan sebagai obyek pemikiran, sejak Abad ke-20 sejarah pemikiran manusia mengalami pergeseran dari teosentris ke antroposentris, manusia lebih suka memikirkan manusia dan pengetahuannya, bahasa manusia, masyarakat dan budayanya dari pada memikirkan Tuhannya.
Sejarah pemikiran manusia tentang ketuhanan tidaklah berjalan lurus, setidak-tidaknya pasca Hegel filsafat ketuhanan mulai mengalami keterputusan, para filosof seperti Marx, Nietzsche, Feurbach, Freud dan Sartre mengikuti garis ateisme. Para filosof ateis abad ke-19-20 ini mengikuti keyakinan Wittgenstein bahwa kejujuran intelektual menuntut bahwa “tentang apa yang tidak dapat diperkatakan, orang harus diam”.
Filsafat kaum ateis bertolak dari paradigma ilmu alam bahwa rasionalitas bukan lagi spekulasi filosofis dengan tanpa pendekatan empiris, oleh karenanya bagi para filosof ateis pembahasan tentang Tuhan dianggap sebagai bukan obyek ilmu alam dan masalah ketuhanan berada di luar batas-batas wacana rasional. Tidak heran jika di zaman kontemporer banyak ilmuwan muncul justru dari kaum yang tidak beragama, kita tengok saja dari para peraih Nobel selama tiga dekade terakhir hampir semua dari kalangan kaum tidak beragama.
Namun, tidak semua filosof mengikuti dekrit Wittgenstein tersebut A. N. Whitehead misalnya mampu menawarkan metode yang menarik mengenai filsafat ketuhanan. Bagi Whitehead Meneliti konsep kefilsafatan tentang Tuhan adalah meneliti masalahnya secara organis dan integralis, yaitu melihat segala sesuatu secara tersusun, berproses dan tak terpisahkan dari keseluruhannya. Menurut Whitehead studi tentang ketuhanan atau pemikiran metafisis justru dapat membantu mencapai pengetahuan tentang Tuhan sambil memperbaiki doktrin religiusitas. (Leclerec, 1961).
Lewat buku ini Franz Magnis juga mendeskripsikan pemikiran kaum filosof ateis secara apik sekaligus menganilisisnya dengan penuh kekritisan. Selain itu dia juga membuktikan bahwa tema pengkajian tentang filsafat ketuhanan justru sangat relevan dalam kondisi masyarakat seperti sekarang yang penuh dengan krisis moral, kepercayaan, dan semakin sesak dengan kekerasan.
Judul Buku : Menalar Tuhan
Penulis : Franz Magnis Suseno
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2006
Tebal : 245 halaman
Harga : 42. 000, 00

Bookmark and Share

0 comments:

Post a Comment